Jumat, 07 Februari 2014

Pembodohan

Realita ini melelahkan
Berjuang demi keduduka
berwenang atas kekuasaan
bahagia karena uang
Hanya karena ingin ditakutti
Mereka royal
Untuk sandang pangan pribadinya
Yang mereka pikir hanya kerabatnya
Lalu kami dianggap apa?
Suara kami berhak memilih tikus berdasi itu
Akhirnya tak berbuih kemajuan
Kemana larinya rupiah kami itu
Ini perbuhan atau pembodohan ?
Mulut berbisa!
Obral janji!
Itu bukanlah cerca kami
Namun itu memang yang mereka lakukan
Pada kami

Rabu, 30 Oktober 2013

Malam ini ku bingkai lagi sekelebat tragedi masa lalu
Kejadian yang begitu singkat dan bias
Keterpurukan diriku yang mungkin tak mampu bangkit lagi

Apa aku telah melakukan hal keji padamu ?
Apa aku juga mencelamu ?
Bahkan, apa aku terlalu nista untukmu masa laluku ?

Tanda tanya tanpa ada sebuah jawaban
Aku mencoba membuntuti bayangmu
Sayang kini itu telah hilang

Aku mencoba mencari pijakan kakimu
Namun kini itu telah memudar
Ditelan lebatnya hujan nan deras

Mencoba menembus mega mega awan di langit
Membelai laksana embun yang menyejukkanku
Sayang hatiku tak sesejuk saat itu
Hati dirundung pilu dalam malam kelabu

Tapi aku tetap bertahan pada niatanku
Untuk tetap menanti kehadiran dirimu lagi
Segenap hati dan jiwaku telah membuka dan menerima kedatanganmu

Tapi, mengapa tak pernah kutemukan dirimu
Bahkan setitik bingkaian tentang dirimupun tiada
Menelaah arti kata MENYESAL
Yang membuatku nelangsa setengah mati
Entah keberapa kian kalinya hal yang membuatku hampir gila itu terjadi


Kamis, 10 Oktober 2013

Senja Pulau Raja Ampat

Mentari mulai menyelinap di balik perbukitan
Cahayanya kian meredup
Kupandangi pemandangan yang bisa tertangkap oleh lensa mataku
Pemandangan sketsa panorama asli

Pandanganku kaku, tak mau kuberalih
Untuk menyaksikan bingkaian pemandangan lain
Tetap pada satu tujuan
Ku pijakkan kakiku diatas bukit bukit tinggi ini

Menyusuri jalannya yang sukar
Dan menyaksikan fenomen kepulangan sang surya
Kuhirup dan terus kuhirup udara sejuk yang tertinggal
Semakin dalam semakin nyaman

Aku tetap bersikukuh
Tak mau beranjak dari semua ini
Indahnya nusantara ini
Oh tuhan. terimakasih atas kesempatan yang sudah kau limpahkan
Pada rohani dan jasmani ku ini

Kau berikan kesempatan untuk menyaksikan
Panorama pulau Raja Ampat ini
Ku tak peduli dengan hempasan angin sejuk yang menerpaku
Mencoba menyelimuti tubuh kecilku

Mataku tetap lekat pada kejadian yang ku saksikan saat ini
Seakan tak mau melewatkan sedetikpun nuansa ini
Antero yang menakjubkan

Kini cahanya telah layu dan tenggelam
Kini bergantian dengan sang rembulan
Untuk menyinari kehidupan kami disaat menjelang gelap telah datang
Ras syukurku padamu tuhan :)

Selasa, 24 September 2013

Never Ending !


Tau tidak ?

Hatiku remuk , terkoyak

Hancur berkeping keping

Tau tidak ?

Pikiranku kacau, terbebani

Hilang akal sehatku

  


Tau tidak ?

Jiwaku kosong, stress

Melompong semua rohaniku

Tau tidak ?

Mataku pedas, Panas

Berkaca kaca mataku


Dan tidak kah kau tau ?

Kenapa realita pedih itu menimpaku ?

Semua atas perbuatanmu !


Kau hancurkan warasku

Kau butakan mataku

Kau gelapkan hidupku

Kau sakiti jiwaku


Oh, Kekasih

Mengapa dihari itu

Aku harus meyaksikan peristiwa singkat itu ?

Apa tak ada materi lain yang harus ku saksikan ?

Kenapa aku harus melihatmu bercumbu

Dengan kekasih simpananmu itu ?

Apa tak ada peristiwa lain yang harus ku saksikan pula ?


Kenyataan itu makin membuat hatiku kalap

Cintamu padaku hanya bagaikan bumbu cinta yang hambar rasanya

Belenggu , Belenggu , Belenggu

Ku coba tuk menggaris bawahi kata Move On

Tapi kenapa tak sedikitpun kata itu mudah terjalani olehku

Terlalu susah ku cerna realita cintaku


Garis keras, Hatiku tak dapat mendusta

Ia seakan mutlak menggertak mulut, hati, jiwa, dan pikiranku

Untuk tak sedikitpun memusnahkanmu

Dai memori realita cinta pedih ini !

Tak ada, tak akan ada , dan bahkan tidak akan pernah ada

Kata bagai tanda kutip didalam cerita panjang ini !


Kamis, 12 September 2013

biografi taufik ismail

Penyair penerima Anugerah Seni Pemerintah RI (1970) yang menulis Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999), ini lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935. Pendiri majalah sastra Horison (1966) dan Dewan Kesenian Jakarta (1968) ini berobsesi mengantarkan sastra ke sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi.


Taufiq Ismail, lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor (1963, sekarang Institut Pertanian Bogor. Selain telah menerima Anugerah Seni Pemerintah RI juga menerima American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57).


Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan Perancis. Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan, antara lain: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.), Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970), Tirani (1966), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung (1973), Puisi-puisi Langit (1990), Tirani dan Benteng (1993), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999).


Selain itu, bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad, Taufiq menerjemahkan karya penting Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Sedangkan bersama D.S. Moeljanto, salah seorang seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan, menyunting Prahara Budaya (1994). 


Taufiq sudah bercita-cita jadi sastrawan sejak masih SMA di Pekalongan, Jawa Tengah. Kala itu, dia sudah mulai menulis sajak yang dimuat di majalah Mimbar Indonesia dan Kisah. Dia memang dibesarkan di lingkungan keluarga yang suka membaca, sehingga dia sejak kecil sudah suka membaca.


Kegemaran membacanya makin terpuaskan, ketika Taufiq menjadi penjaga perpustakaan Pelajar Islam Indonesia Pekalongan. Sambil menjaga perpustakaan, dia pun leluasa melahap karya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, sampai William Saroyan dan Karl May. Dia tidak hanya membaca buku sastra tetapi juga sejarah, politik, dan agama.


Kesukaan membacanya, tanpa disadari membuatnya menjadi mudah dan suka menulis. Ketertarikannya pada sastra semakin tumbuh tatkala dia sekolah di SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS. Dia mendapat kesempatan sekolah di situ, berkat beasiswa program pertukaran pelajar American Field Service International Scholarship. Di sana dia mengenal karya Robert Frost, Edgar Allan Poe, Walt Whitman. Dia sanga menyukai novel Hemingway The Old Man and The Sea.
Namun setelah lulus SMA, Taufiq menggumuli profesi lain untuk mengamankan urusan dapur, seraya dia terus mengasah kemampuannya di bidang sastra. Dia juga kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia di Bogor, lulus 1963. Semula dia berobsesi menjadi pengusaha peternakan untuk menafkahi karir kepenyairannya, namun dengan bekerja di PT Unilever Indonesia, dia bisa memenuhi kebutuhan itu.


Taufiq menikah dengan Esiyati  tahun 1971. Mereka dikaruniai satu anak, yang diberinya nama: Abraham Ismail. Dia sangat bangga dengan dukungan isterinya dalam perjalanan karir. Esiyati sangat memahami profesi, cita-cita seorang sastrawan, emosi sastrawan, bagaimana impuls-impuls seorang sastrawan.


Taufiq bersama sejumlah sastrawan lain, berobsesi memasyarakatkan sastra ke sekolah-sekolah melalui program “Siswa Bertanya, Sastrawan Menjawab”. Kegiatan ini disponsori Yayasan Indonesia dan Ford Foundation.
Taufiq sudah menerbitkan sejumlah buku kumpulan puisi, di antaranya: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.); Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970); Tirani (1966); Puisi-puisi Sepi (1971); Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971); Buku Tamu Museum Perjuangan (1972); Sajak Ladang Jagung (1973); Puisi-puisi Langit (1990); Tirani dan Benteng (1993); dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999).

Dia pun sudah menerima penghargaan: - American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57); - Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970; dan - SEA Write Award (1997).

Biodata:
Nama:Taufiq Ismail
Lahir:Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935
Agama: Islam
Isteri: Esiyati Ismail (Ati)
Anak:Abraham Ismail
Ayah:KH Abdul Gaffar Ismail (almarhum)
Ibu:Timur M Nur
Pendidikan:- Sekolah Rakyat di Semarang- SMP di Bukittinggi, Sumatera Barat- SMA di Pekalongan, Jawa Tengah- SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS- Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI, Bogor, 1963
Karir:- Penyair- Pendiri majalah sastra Horison (1966)- Pendiri Dewan Kesenian Jakarta (1968)- Redaktur Senior Horison dan kolumnis (1966-sekarang)- Wakil General Manager Taman Ismail Marzuki (1973)- Ketua Lembaga Pendidikan dan Kesenian Jakarta (1973-1977)- Penyair, penerjemah (1978-sekarang)
Kegiatan Lain:- Dosen Institut Pertanian Bogor (1962-1965)- Dosen Fakultas Psikologi UI (1967)- Sekretaris DPH-DKI (1970-1971)- Manager Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978)- Ketua Umum Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (1985)
Karya:- Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.)- Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970)- Tirani (1966)- Puisi-puisi Sepi (1971)- Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971)- Buku Tamu Museum Perjuangan (1972)- Sajak Ladang Jagung (1973)- Puisi-puisi Langit (1990)- Tirani dan Benteng (1993)- Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999)
Penghargaan:- American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57)- Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970- SEA Write Award (1997)
Alamat Rumah:Jalan Utan Kayu Raya No. 66 E, Jakarta Timur 13120 Telepon (021)8504959, 881190
Alamat Kantor:Jalan Bumi Putera 23, Jakarta Timur- See more at: http://gudang-biografi.blogspot.com/2010/01/biografi-taufik-ismail.html#sthash.aG56sGqb.dpuf

Minggu, 08 September 2013

the day you went away

Well I wonder could it be
Aku bertanya-tanya mungkinkah
When I was dreaming 'bout you baby
Saat aku memimpikanmu kasih
You were dreaming of me
Kau juga sedang memimpikanku
Call me crazy, call me blind
Sebut aku gila, sebut aku buta
To still be suffering is stupid after all of this time
Tetap menderita sampai saat ini memanglah gila

PRE-CHORUS 1
Did I lose my love to someone better
Apakah kekasihku jadi milik orang lain yang lebih baik
And does she love you like I do
Dan apakah dia mencintamu sepertiku
I do, you know I really really do
Aku mencintaimu, kau tahu aku sangat mencintaimu

CHORUS
Well hey
Hey
So much I need to say
Banyak yang ingin kukatakan
Been lonely since the day
Aku telah kesepian sejak hari itu
The day you went away
Hari saat kau berlalu pergi
So sad but true
Sangat sedih namun benar
For me there's only you
Untukku hanya ada dirimu
Been crying since the day
Aku menangis sejak hari itu
The day you went away
Hari saat kau berlalu pergi

VERSE 2
I remember date and time
Aku ingat tanggal dan jam
September twenty second
Bulan September tanggal dua puluh dua
Sunday twenty five after nine
Hari minggu jam sembilan lebih lima
In the doorway with your case
Di ambang pintu dengan kopermu
No longer shouting at each other
Tak lagi saling berteriak
There were tears on our faces
Air mata menetes di wajah kita